Monthly Archives: Juli 2010

Empat landasan pokok Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam bermua’malah bersama Pemerintah Muslim [disadur dari risalah `wa jaadilhum billati hiya ahsan`

Empat landasan pokok

Ahlus Sunnah wal Jama’ah

dalam bermua’malah bersama Pemerintah Muslim


Landasan dasar pertama:

Seorang muslim diperintahkan untuk memeriksa (meng-cross chek) setiap apa-apa yang sampai padanya berupa khabar berita, sehingga tidaklah setiap tuduhan-tuduhan atau dakwaan yang diarahkan kepada pemerintah kaum muslimin adalah benar. Maka wajib meneliti kebenaran khabar berita yang ada.

oleh karena itulah sebenarnya kebanyakan dari kerusakan pola pikir berupa pemikiran teroris khawarij adalah disebabkan karena bertebarannya tuduhan-tuduhan serta dakwaan tanpa bukti yang jelas secara nyata dan gamblang.


Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah :

يسمع خبر الفاسق ويتبين ويتثبت فلا يجزم بصدقه ولا كذبه إلا ببينة، كما قال تعالى: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا} ا ااا

“didengar khabar berita dari orang fasik dan diteliti serta di periksa keshohihannya, tidaklah boleh bagi kita mempercayainya, dan tidak pula mendustakannya kecuali setelah jelas kebenarannya (dengan bukti-bukti yang nyata dan berwujud). Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : “Jika datang kepada kalian pembawa khabar berita dari orang fasik maka telitilah (tabayyun) [QR. Al Hujurat 6] <fataawa 19/63>

Dan berkata pula beliau :

فإنه علل ذلك بخوف الندم والندم إنما يحصل على عقوبة البريء من الذنب كما في سنن أبي داود : {
ادرءوا الحدود بالشبهات فإن الإمام إن يخطئ في العفو خير من أن يخطئ في العقوبة } فإذا دار الأمر بين أن
يخطئ فيعاقب بريئا أو يخطئ فيعفو عن مذنب كان هذا الخطأ خير الخطأين
.

“yang demikian itu diperintahkan, adalah agar tidak muncul penyesalan di kemudian hari. Penyesalan itu terjadi karena menghukum orang yang tidak berdosa. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunannya : “Tahanlah hukuman jika terdapat padanya kesamaran permasalahan, karena sesungguhnya pemimpin yang salah dalam memaafkan adalah lebih baik daripada seorang pemimpin yang salah dalam menetapkan hukuman (hudud)”. Maka permasalahan berputar pada (dua kemungkinan) : Kesalahan dalam menghukum orang yang tidak berdosa atau kesalahan dalam memaafkan orang yang berdosa. Maka kesalahan yang terakhir (yaitu salah dalam memberikan maaf orang yang berdosa) adalah kesalahan yang paling ringan di antara dua kesalahan tersebut,”

Berkata Asy Syaikh As Sa’di :

وهذا أيضًا، من الآداب التي على أولي الألباب، التأدب بها واستعمالها، وهو أنه إذا أخبرهم فاسق بخبر أن يتثبتوا في خبره، ولا يأخذوه مجردًا، فإن في ذلك خطرًا كبيرًا، ووقوعًا في الإثم ففيه دليل، على أن خبر الصادق مقبول، وخبر الكاذب، مردود، وخبر الفاسق متوقف فيه

“demikan itu menunjukkan adab bagi orang-orang yang berakal, khabar berita orang fasik akan menghasilkan kebaikan setelah di cross chek keshohihannya, maka tidaklah kita menelan mentah-mentah seluruh khabar dari mereka, dikarenakan hal tersebut adalah sebuah perkara yang berbahaya dan menjatuhkan kedalam dosa, … maka pada perintah tersebut terdapat dalil bahwa : berita orang jujur diterima, berita pendusta ditolak, berita orang fasik kita diamkan sampai pasti keshohihannya”. <Tafsir As Sa’di surat Al Hujurat 6>

Faidah:

Ayat yang menjelaskan tentang bagaimana menyikapi khabar dari orang fasik, masuk pula padanya khabar majhul (khabar berita yang tidak diketahui keadaan sang penyampai berita), maka penjelasan yang demikian ini dari dua sisi:

1. Bahwasanya orang yang tidak diketahui identitasnya (majhul), terdapat kemungkinan bahwa orang tersebut fasik (orang yang melanggar hukum agamanya). Maka dianjurkan bagi kita untuk berhati-hati, dengan kata lain kita tidak membenarkan ataupun mendustakan berita tersebut kecuali setelah kita meneliti keshohihanya. Sebagaimana kita tidak membenarkan dan mendustakan khabar berita dari orang fasik kecuali setelah kita teliti keshohihannya.

2. Bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk mentatsabut (meneliti dengan pasti/crosschek) disebabkan agar kita tidak menetapkan atau membenarkan sesuatu diatas kebodohan dan ketidaktahuan.

Baca lebih lanjut

Iklan
Categories: Anti Teroris | 2 Komentar

DI MANA الله ??? [disadur dari kitab Qoulud Mufid karya Asy-Syaikh Muhammad Al-Wushobi]

DI Manakah الله

Pertanyaan ini nampak begitu sederhana, namun tidak sedikit yang terdiam seribu bahasa ketika pertanyaan di atas diajukankan kepada kita, tidak sedikit pula yang menjawab dengan serampangan dan sok tahu, atau dengan asas praduga dan prasangka, namun pertanyaan sederhana ini begitu agung dan penting bagi keselamatan aqidah seorang muslim, yang dengannya dibangun pondasi awal sebuah keimanan.

Baca lebih lanjut

Categories: Aqidah | 2 Komentar

Kaidah-kaidah dasar yang wajib diperhatikan di dalam memahami Tauhid Asma’ wa Sifat

Kaidah-kaidah dasar yang wajib diperhatikan di dalam memahami Tauhid Asma’ wa Sifat

 

Pertama-tama perlu diketahui bahwa ahlus sunnah wal jama’ah salafush shalih rahimahumullah adalah generasi yang menerima seluruh apa yang datang berupa dalil yang shohih dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, mereka adalah orang-orang yang mengilmui dan meyakini serta mengamalkan ilmunya. Mereka berjalan diatas jalan kitabullah dan sunnah yang shohih tanpa membeda-bedakan antara hadits yang mutawatir maupun hadits ahad, menerima setiap dalil yang jelas keshohihannya, maka sepatutnyalah untuk menempuh jalan mereka.

 

Kitab-kitab salafush shalih dari dulu hingga sekarang, terkumpul padanya prinsip-prinsip seperti disebutkan diatas, dan tidaklah tersembunyi yang demikian itu bagi setiap orang yang membacanya, maka setiap apa yang diatas prinsip tersebut kita pegang erat, dan apa yang menyelisihinya kita tolak.

 

Adapun prinsip orang-orang belakangan yang tidak menempuh jalan mereka (salafush shalih) dari kalangan ahli bid’ah dan ahli hawa, tempat rujukan mereka dalam berhukum adalah akal. Maka setiap apa yang mencocoki akal mereka terima. Pertama-tama mereka menyandarkan pada akal, maka apabila akal tersebut mencocoki syariat, menjadi senanglah mereka, namun setiap perkara yang menyelisihi akal-akal mereka adakalanya mereka tolak adakalanya mereka palingkan maknanya dari makna aslinya, walupun hal yang menyelisihi akal mereka tersebut mencocoki syariat.

Baca lebih lanjut

Categories: Aqidah | 4 Komentar

Blog di WordPress.com.