Empat landasan pokok Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam bermua’malah bersama Pemerintah Muslim [disadur dari risalah `wa jaadilhum billati hiya ahsan`

Empat landasan pokok

Ahlus Sunnah wal Jama’ah

dalam bermua’malah bersama Pemerintah Muslim


Landasan dasar pertama:

Seorang muslim diperintahkan untuk memeriksa (meng-cross chek) setiap apa-apa yang sampai padanya berupa khabar berita, sehingga tidaklah setiap tuduhan-tuduhan atau dakwaan yang diarahkan kepada pemerintah kaum muslimin adalah benar. Maka wajib meneliti kebenaran khabar berita yang ada.

oleh karena itulah sebenarnya kebanyakan dari kerusakan pola pikir berupa pemikiran teroris khawarij adalah disebabkan karena bertebarannya tuduhan-tuduhan serta dakwaan tanpa bukti yang jelas secara nyata dan gamblang.


Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah :

يسمع خبر الفاسق ويتبين ويتثبت فلا يجزم بصدقه ولا كذبه إلا ببينة، كما قال تعالى: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا} ا ااا

“didengar khabar berita dari orang fasik dan diteliti serta di periksa keshohihannya, tidaklah boleh bagi kita mempercayainya, dan tidak pula mendustakannya kecuali setelah jelas kebenarannya (dengan bukti-bukti yang nyata dan berwujud). Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : “Jika datang kepada kalian pembawa khabar berita dari orang fasik maka telitilah (tabayyun) [QR. Al Hujurat 6] <fataawa 19/63>

Dan berkata pula beliau :

فإنه علل ذلك بخوف الندم والندم إنما يحصل على عقوبة البريء من الذنب كما في سنن أبي داود : {
ادرءوا الحدود بالشبهات فإن الإمام إن يخطئ في العفو خير من أن يخطئ في العقوبة } فإذا دار الأمر بين أن
يخطئ فيعاقب بريئا أو يخطئ فيعفو عن مذنب كان هذا الخطأ خير الخطأين
.

“yang demikian itu diperintahkan, adalah agar tidak muncul penyesalan di kemudian hari. Penyesalan itu terjadi karena menghukum orang yang tidak berdosa. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunannya : “Tahanlah hukuman jika terdapat padanya kesamaran permasalahan, karena sesungguhnya pemimpin yang salah dalam memaafkan adalah lebih baik daripada seorang pemimpin yang salah dalam menetapkan hukuman (hudud)”. Maka permasalahan berputar pada (dua kemungkinan) : Kesalahan dalam menghukum orang yang tidak berdosa atau kesalahan dalam memaafkan orang yang berdosa. Maka kesalahan yang terakhir (yaitu salah dalam memberikan maaf orang yang berdosa) adalah kesalahan yang paling ringan di antara dua kesalahan tersebut,”

Berkata Asy Syaikh As Sa’di :

وهذا أيضًا، من الآداب التي على أولي الألباب، التأدب بها واستعمالها، وهو أنه إذا أخبرهم فاسق بخبر أن يتثبتوا في خبره، ولا يأخذوه مجردًا، فإن في ذلك خطرًا كبيرًا، ووقوعًا في الإثم ففيه دليل، على أن خبر الصادق مقبول، وخبر الكاذب، مردود، وخبر الفاسق متوقف فيه

“demikan itu menunjukkan adab bagi orang-orang yang berakal, khabar berita orang fasik akan menghasilkan kebaikan setelah di cross chek keshohihannya, maka tidaklah kita menelan mentah-mentah seluruh khabar dari mereka, dikarenakan hal tersebut adalah sebuah perkara yang berbahaya dan menjatuhkan kedalam dosa, … maka pada perintah tersebut terdapat dalil bahwa : berita orang jujur diterima, berita pendusta ditolak, berita orang fasik kita diamkan sampai pasti keshohihannya”. <Tafsir As Sa’di surat Al Hujurat 6>

Faidah:

Ayat yang menjelaskan tentang bagaimana menyikapi khabar dari orang fasik, masuk pula padanya khabar majhul (khabar berita yang tidak diketahui keadaan sang penyampai berita), maka penjelasan yang demikian ini dari dua sisi:

1. Bahwasanya orang yang tidak diketahui identitasnya (majhul), terdapat kemungkinan bahwa orang tersebut fasik (orang yang melanggar hukum agamanya). Maka dianjurkan bagi kita untuk berhati-hati, dengan kata lain kita tidak membenarkan ataupun mendustakan berita tersebut kecuali setelah kita meneliti keshohihanya. Sebagaimana kita tidak membenarkan dan mendustakan khabar berita dari orang fasik kecuali setelah kita teliti keshohihannya.

2. Bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk mentatsabut (meneliti dengan pasti/crosschek) disebabkan agar kita tidak menetapkan atau membenarkan sesuatu diatas kebodohan dan ketidaktahuan.

Landasan dasar kedua :

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bersepakat atas tidak bolehnya memberontak kepada pemerintah yang sah, kecuali apabila terdapat kekafiran yang nyata dan jelas yang tidak terkandung padanya kemungkinan-kemungkinan lain (selain kekufuran).

Oleh karena itu kebanyakan munculnya syubhat (kerancuan pola pikir) tuduhan bahwa pemerintah muslim telah terjatuh kepada kekafiran adalah sikap serampangan dan terburu-buru yang tidaklah pada mereka para pemerintah melainkan perbuatan maksiat yang belum tentu menghantarkan kepada kekafiran yang nyata, sehingga tidak sampai pada pelaku perbuatan (maksiat) tersebut hukuman sebagaimana hukuman yang ditetapkan bagi orang kafir.

Maka itu wajib bagi kita Bermuamalah kepada para pelaku maksiat sebagaimana yang dibimbingkan dalam Alqur’an dan Sunnah yaitu berupa menasehati dan mendo’akan mereka, dengan tetap tidak melepaskan ketaatan pada perkara yang mereka (pemerintah muslim) perintahkan kecuali apabila mereka memerintah kita untuk berbuat maksiat; misal: meninggalkan sholat, berzina, minum khomr, dll) maka tidaklah kita menaati yang demikian tersebut.

Berkata Imam An Nawawi :

« وأما الخروج عليهم وقتالهم : فحرام بإجماع المسلمين وإن كانوا فسقه ظالمين , وقد تظاهرت الأحاديث على ما ذكرته , وأجمع أهل السنة أنه : لا ينعزل السلطان بالفسق » ( شرح صحيح مسلم ، تحت الحديث رقم 4748)

Yakni sebagaimana firman Allah pada lanjutan ayat ke-6 surat Al-Hujurat di atas, : “ … agar kalian tidak menimpakan suatu musibah (kejelekan) kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu.”

“Adapun memberontak dengan memisahkan diri dari penguasa yang sah adalah HARAM berdasarkan kesepakatan kaum muslimin walaupun mereka Dholim dan Fasik, dan sungguh hadits-hadits yang menjelaskan hal tersebut telah jelas, dan bersepakat Ahlus  Sunnah bahwasanya “Tidaklah boleh memisahkan diri pemerintahan yang fasik sekalipun”. <Syarah Shohih Muslim hadits nomer 4748>


Berkata Ibnu Hajar Al Asqolani :

ـ قال الحافظ ابن حجر – رحمه الله – ( الفتح 13/9 تحت الحديث رقم: 7054 ):

« قال ابن بطال: وفي الحديث حجة على ترك الخروج على السلطان ولو جار، وقد أجمع الفقهاء على وجوب طاعة السلطان المتغلب والجهاد معه، وأن طاعته خير من الخروج عليه؛ لما في ذلك من حقن الدماء وتسكين الدهماء . وحجّتهم هذا الخبرُ وغيره مما يساعده، ولم يستثنوا من ذلك إلا إذا وقع من السلطان الكفر الصريح ».

“Tidak boleh keluar dari ketaatan kepada penguasa yang sah walaupun penguasa tersebut menyimpang dan dholim, dan telah bersepakat pula Fuqoha Ahli Fiqih tentang wajibnya taat kepada pemerintah yang berkuasa walaupun kekuasaan tersebut diraih dengan cara mengkudeta pemerintahan yang sebelumnya, dan berjihad bersama mereka. Karena taat kepada mereka lebih baik daripada keluar memberontak kepada mereka karena yang demikian itu adalah untuk melindungi tertumpahnya darah kaum muslimin dan ketentraman orang banyak. Yang demikian itu dikecualikan jika pada penguasa tersebut terdapat kekafiran yang nyata dan jelas” <Fathul Bari Syarah Shohih Bukhori hadits nomer 7054>

Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Baz :


فإذا أمروا بالمعصية فلا يطاعون في المعصية، لكن لا يجوز الخروج عليهم بأسبابها

Apabila para penguasa tersebut memerintahkan kita untuk bermaksiat, maka tidaklah kita menaati mereka atas hal tersebut, Akan Tetapi tetap tidak boleh kita keluar memberontak menentang mereka <Fataawa 8/202>

Berkata Syaikh Utsaimin :

مهما فسق ولاة الأمور لايجوز الخروج عليهم و لو شربوا الخمر لو زنوا , لو ظلموا الناس

“Bagaimanapun fasiknya pemerintah kaum muslimin, tidak boleh bagi kita memberontak kepada mereka, bahkan walaupun mereka meminum khomr, atau berzina, maupun mendholimi manusia, ”. <Syarah Riyadhus Shalihin 4/513>


ليس معنى ذلك أنه إذا أمر بمعصية تسقط طاعته مطلقاً . لا . إنما تسقط طاعته في هذا الأمر المعين الذي هو معصية لله . أما ما سوى ذلك ، فإنه تجب طاعته

Bukanlah maknanya yang demikian, apabila mereka memerintahkan maksiat lalu kemudian kita melepaskan ketaatan kepada mereka secara mutlak. Kita melepaskan ketaatan pada perkara yang jelas memerintahkan maksiat kepada Allah, adapaun selain itu dari perkara-perkara yang ma’ruf kita tetap wajib mendengar dan taat”. <Syarah Riyadhus Shalihin 3/333>


Landasan Dasar Ketiga :

Tidaklah setiap yang terjatuh kepada kekufuran kemudian menjadi kafir secara mutlak, karena terkadang didapati padanya perkara-perkara yang menghalangi untuk dikafirkannya secara mutlak bagi pelaku kekufuran tersebut. Oleh karena itu dikatakan : “Sesungguhnya sebagaian perkara-perkara yang terjadi pada sebagaian pemerintah muslim adalah perkara-perkara yang baru mendekati kekafiran, maka tidaklah salah seorangpun dari kita boleh bermuamalah kepada para penguasa tersebut sebagaimana bermuamalah kepada pemerintah yang telah tervonis kafir secara mutlak keluar dari islam, sampai tegak / telah sampai pada para penguasa tersebut Hujjah (penjelasan yang gamblang).”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ;

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله :
( وليس لأحد أن يكفر أحداً من المسلمين وإن أخطأ وغلط حتى تقام عليه الحجة ، وتبين له المحجة ، ومن ثبت إسلامه بيقين لم يزل ذلك عنه بالشك ، بل لا يزول إلا بعد إقامة الحجة ، وإزالة الشبهة ) مجموع الفتاوى 12/466 .

“dan tidaklah boleh bagi seorangpun untuk mengkafirkan seorang muslim walaupun dia salah atau keliru, sampai tegak padanya hujjah / dalil dan jelas bagi dia hujjah yang disampaikan (tidak tersamarkan). Maka siapapun yang telah menetapkan keislaman bagi dirinya dengan yakin, tidaklah ketetapan tersebut terbatalkan disebabkan keraguan yang ada padanya. Bahkan tetap teranggap keyakinannya diatas islam kecuali setelah tegakknya hujjah bagi dia dan hilangnya syubhat (kerusakan pola pikir)”. <Fataawa 12/466>


كلما رأوهم قالوا : من قال كذا فهو كافر ، اعتقد المستمع أن هذا اللفظ شامل لكل من قاله ، ولم يتدبروا أن التكفير له شروط وموانع قد تنتفي في حق المعين ، وأن تكفير المطلق لا يستلزم تكفير المعين إلا إذا وجدت الشروط وانتفت الموانع ، يبين هذا أن الإمام أحمد وعامة الأئمة الذين أطلقوا هذه العمومات لم يكفروا أكثر من تكلم هذا الكلام بعينه

“bahwasanya pengkafiran terhadap seseorang, memiliki beberapa persyaratan dan penghalang-penghalang yang menghalangi seseorang divonis kafir secara perindividu, pengkafiran secara mutlak tidaklah melazimkan pengkafiran secara per individu, kecuali apabila terdapat padanya syarat-syarat yang terpenuhi dan hilangnya perkara-perkara yang mencegah dijatuhkannya vonis kafir. Oleh karena itu Imam Ahmad bin Hanbal menetapkan kaidah umum ini dengan tidak memvonis kafir secara per individu bagi orang-orang yang menyatakan bahwa Alquran adalah Makhluk bukan Kalamullah.” <Fataawa 12/487>

Berkata Syaikh Al Albani :

وقال الإمام الألباني – رحمه الله – ( الصحيحة ، تحت الحديث رقم : 3048 ) :


« ليس كل من وقع في الكفر – من المؤمنين – وقع الكفرُ عليه وأحاط به » انتهى

Tidaklah setiap perbuatan kufur yang terjadi pada seorang mukmin langsung dihukumi pelakunya kafir (butuh perincian)”. <Silsilah As Shohihah hadits nomer 3048>

Contoh : seseorang  berzina apakah kita katakan secara per individu orang yang melakukan hal tersebut Kafir secara mutlak?  Maka hal ini butuh perincian : jika telah sampai hujjah (penjelasan yang gamblang) secara jelas kepada orang tersebut tentang haramnya zina dan larangan keras untuk melakukannya, kemudian dia tetap menyatakan zina itu tidak haram, dan dia  selalu mengerjakannya disertai keyakinan dalam hatinya bahwa zina adalah mubah, dan tidak ada dosa bagi orang yang melakukannya. Maka dia kafir secara jelas dan gamblang. Adapun orang yang tidak mengetahui tentang hukum zina, tidak mengetahui kerasnya larangannya, atau dia meyakini haramnya zina namun terkadang hawa nafsunya membuat dia melakukan perbuatan tersebut, maka yang seperti ini tidak bisa langsung divonis kafir, namun kita katakan dia telah telah terjatuh pada dosa besar dan perbuatan maksiat yang sangat besar.

Berkata Syaikh Utsaimin :

“كل إنسان فعل مكفراً [فلابد] أن يوجد فيه مانع التكفير، ولهذا جاء في الحديث الصحيح لما سألوه هل ننابذ الحكام؟ قال: (إلا أن تروا كفراً بواحاً عندكم فيه من الله برهان) فلابد من أن يكون الكفر صريحًا معروفًا لا يحتمل التأويل، فإن كان يحتمل التأويل فإنه لا يكفر صاحبه وإن قلنا إنه كفر. فيفرق بين القول والقائل، وبين الفعل والفاعل، قد تكون الفعلة فسقاً ولا يفسق الفاعل لوجود مانع يمنع من تفسيقه، وقدتكون كفراً ولا يكفر الفاعل لوجود مانع يمنع من تكفيره، وما ضر الأمة الإسلامية في خروج الخوارج إلا هذا التأويل الفاسد

ربما يفعل الإنسان فعلاً فسقاً لا إشكال فيه، لكنه لا يدري، فإذا قلت: يا أخي! هذا حرام. قال: جزاك الله خيراً. وانتهى عنه. أليس هذا موجودًا؟!؛ بلى بلا شك إذاً: كيف أحكم على إنسان بأنه فاسق دون أن تقوم عليه الحجة؟.

فهؤلاء الذين تشير إليهم [يعني ممن يحكمون بالقوانين] مما يجري في الساحة بين حكام العرب والمسلمين قد يكونون معذورين فيه لم تُبَيَّن لهم الحجة، أو بينت لهم وجاءهم من يلبس عليهم ويشبه عليهم مثلاً. فلا بد من التأني في الأمر…” اهـ

“Terkadang terjadi perbuatan kefasikan dan tidak dihukumi fasik orang yang melakukannya, dikarenakan adanya penghalang yang menyebabkan tidak bisa ditetapkannya hukum fasik pada pelakunya, dan terjadi perbuatan kekufuran dan tidak dikafirkan pelakunya dikarenakan adanya penghalang yang menyebabkan tidak bisa ditetapkannya hukum kafir pada pelakunya. Dan tidaklah  menyimpang para teroris khawarij tersebut melainkan karena salah dalam menakwilkan (memahami) permasalahan. Terkadang manusia melakukan perbuatan fasik yang tidak diragukan lagi bahwa perbuatan tersebut adalah fasik, akan tetapi dia melakukan perbuatan tersebut karena tidak mengetahui hukumnya, dan jika kita katakan kepada mereka (wahai saudaraku itu haram, dilarang) ! lalu dia mengatakan (Jazakallah Khoir, Terima Kasih, Maaf saya tidak tahu sebelumnya) dan dia segera meninggalkan perbuatan tersebut seketika, lalu apakah yang demikian itu kita hukumi bahwa dia fasik sebelum tegak atasnya hujjah / penjelasan, maka sepatutnya untuk berhati-hati terhadap perkara tersebut”. <Al Bab Al Maftuh 3/125 pertanyaan ke 1222>

Faidah :

Syarat-syarat bolehnya vonis kafir ditetapkan :

1. Sampainya Ilmu padanya, dan dia mengetahui akan keharaman sesuatu tersebut dengan jelas (berbeda jika dia tidak mengetahui dan bodoh terhadap keharaman sesuatu tersebut, maka hal tersebut menghalangi vonis kafir>

2. Jelasnya Niat dan Tujuan bahwasanya dia bersengaja melakukan sesuatu yang haram tersebut disertai keyakinan halalnya sesuatu yang haram tersebut (berbeda jika dia melakukan suatu keharaman karena tidak sengaja, atau salah dalam menakwilkan/memahami hukumnya, maka ini mencegah dijatuhkannya vonis kafir padanya)

3. Bahwasanya suatu keharaman tersebut dia kerjakan atas dasar keinginannya sendiri (berbeda jika dia melakukan suatu keharaman karena dipaksa)

4. Tidak adanya kesalahan dalam penta’wilan / pemahaman, tidak terjadi padanya kesamaran memahami hukum, misalkan dia salah memahami antara hukum haram dan mubah, sehingga dia memahami bahwa suatu keharaman tersebut mubah.

Landasan Dasar Keempat :


Keluar memberontak kepada penguasa yang telah kafir, tidaklah mutlak !!! bahkan padanya terdapat beberapa persyaratan:

1. Terjatuhnya penguasa tersebut kedalam kekafiran yang nyata, yang kita memiliki bukti disisi Allah (berupa hujjah dari Kitabullah dan Sunnah)

2. Tegaknya / Sampainya Hujjah pada penguasa tersebut.

3. Adanya kemampuan (baik secara fisik, mental, dan finansial) pada kaum muslimin untuk keluar memberontak.

4. Tidak adanya mafsadah / kerusakan yang lebih besar daripada kerusakan yang terjadi berupa kafirnya penguasa

Maka oleh sebab itu tetaplah sebuah kaidah :

ليس من وقع في الكفر و أصبح كافرا جاز الخروج عليه

Tidaklah setiap yang terjatuh kedalam perbuatan kufur maka menjadilah kafir
sehingga dengan itu dibolehkan keluar memberontak


Berkata Ibnu Hajar Al Asqolani tentang penguasa yang kafir :

تجب مجاهدته لمن قدر عليها (فتح الباري حديس رقم )7053

Wajib bagi kaum muslimin berjihad melawan penguasa yang telah kafir, bila ada kemampuan (Fathul Bari hadits nomer 7053)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah :

فمن كان من المؤمنين بأرض هو فيها مستضعَف أو في وقت هو فيه مستضعف

فليعمل بآية الصبر والصفح عمن يؤذي الله ورسوله من الذين أوتوا الكتاب

والمشركين، وأما أهل القوة فإنما يعملون بآية قتال أئمة الكفر الذين يطعنون في


الدين، وبآية قتال الذين أوتوا الكتاب حتى يعطوا الجزية عن يدٍ وهم صاغرون.

Siapapun dari kalangan kaum mukminin yang menetap di negeri yang penguasanya telah jatuh dalam kekafiran sementara kondisi kaum mukminin lemah atau pada masa-masa lemah, maka hendaklah mereka beramal dengan ayat-ayat yang memerintahkan untuk bersabar dan memerintahkan untuk mengalah terhadap kebiadaban Yahudi dan Nashara, serta Kaum Musyrikin. Adapun apabila kaum mukminin mempunyai kekuatan untuk melawan musuh-musuhnya, maka hendaklah beramal dengan ayat-ayat yang memerintahkan untuk memerangi penguasa-penguasa kafir yang telah menghina Islam, dan ayat-ayat yang memerintah untuk berjihad memerangi yahudi dan nashara sampai mereka mau tunduk dibawah kekuasaan Islam dengan membayar upeti dalam keadaan hina dina. (AsShoorum Al Maslul 2/413)

Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Baz :

إلا إذا رأى المسلمون كفراً بواحاً عندهم من الله فيه برهان، فلا بأس أن يخرجوا على هذا السلطان لإزالته إذا كان عندهم قدرة، أما إذا لم يكن عندهم قدرة فلا يخرجوا، أو كان الخروج يسبب شراً أكثر فليس لهم الخروج رعاية للمصالح العامة. والقاعدة الشرعية المجمع عليها: (أنه لا يجوز إزالة الشر بما هو أشر منه، بل يجب درء الشر بما يزيله أو يخففه) أما درء الشر بشر أكثر فلا يجوز بإجماع المسلمين، فإذا كانت هذه الطائفة التي تريد إزالة هذا السلطان الذي فعل كفراً بواحاً عندها قدرة تزيله بها، وتضع إماماً صالحاً طيباً من دون أن يترتب على هذا فساد كبير على المسلمين، وشر أعظم من شر هذا السلطان فلا بأس، أما إذا كان الخروج يترتب عليه فساد كبير، واختلال الأمن، وظلم الناس، واغتيال من لا يستحق الاغتيال… إلى غير هذا من الفساد العظيم، فهذا لا يجوز

“Kecuali apabila kaum muslimin telah mendapati bahwa penguasa-penguasa mereka telah terjatuh dalam kekafiran yang jelas dan nyata, dan kaum muslimin memiliki bukti nyata disisi Allah berupa ayat-ayat dari Kitabullah dan Sunnah, maka yang demikian itu tidaklah mengapa keluar memberontak kepada para penguasa tersebut untuk menggulingkannya, dengan syarat Adanya Kemampuan dari kaum muslimin. Adapun jika pada diri kaum muslimin tidak ada kemampuan untuk melakukan penentangan maka tidaklah dibolehkan keluar melakukan penentangan. Atau jika penentangan kaum muslimin terhadap penguasa tersebut malah menimbulkan kerusakan / keburukan yang lebih besar dan lebih banyak, maka tidak ada bagi mereka khuruj (keluar memberontak)
demi menjaga kemaslahatan kaum muslimin secara umum.

Dan para Imam Fuqoha’ telah menetapkan Kaidah Syar’i dalam hal ini, yaitu “

لا يجوز إزالة الشر بما هو أشر منه

Tidak boleh menghilangkan (mengganti) suatu keburukan
dengan sesuatu yang lebih buruk

bahkan yang wajib adalah mencegah keburukan tersebut menghindarinya atau mengambil keburukan yang lebih ringan di saat tidak ada pilihan bagi kaum muslimin. Adapun jika menolak keburukan dengan sesuatu yang malah mendatangkan keburukan yang lebih besar maka hal tersebut Tidak Boleh berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, namun apabila ada suatu kelompok yang menginginkan lengsernya penguasa tersebut dari kekuasaannya, mereka memiliki kemampuan (mental, fisik, pasukan, persenjataan) kemudian dengan itu mereka mengangkat seorang penguasa yang sholih dan taat, serta baik dalam memerintah kaum muslimin dengan tanpa ( pemberontakan tersebut ) menimbulkan kerusakan yang lebih besar, maka yang seperti ini adalah Tidak Mengapa !, adapun apabila pemberontakan tersebut malah menimbulkan kerusakan yang lebih besar berupa hilangnya rasa aman, terdholiminya manusia, dan kerusakan-kerusakan lainnya yang lebih besar dari sekedar jatuhnya penguasa kedalam kekufuran, maka yang seperti ini adalah Tidak Boleh ! (Al Fataawa 8/203)

Berkata Syaikh Utsaimin :

ـ وقال الشيخ ابن عثيمين – رحمه الله – عن الخروج على الحاكم الكافر ( الباب المفتوح 3/126 لقاء 51 سؤال 1222 ):

« إن كنّا قادرين على إزالته؛ فحينئذٍ نخرج،وإذا كنّا غير قادرين؛ فلا نخرج؛ لأن جميع الواجبات الشرعية مشروطةٌ بالقدرة والاستطاعة . ثم إذا خرجنا فقد يترتب على خروجنا مفسدة أكبر وأعظم مما لو بقي هذا الرجل على ما هو عليه . لأننا خرجنا ثم ظهرت العِزّةُ له؛ صِرْنا أذِلّة أكثر، وتمادى في طغيانه وكفره أكثر.

فهذه المسائل تحتاج إلى: تعقُّلٍ، وأن يقترن الشرعُ بالعقل، وأن تُبعد العاطفة في هذه الأمور، فنحن محتاجون للعاطفة لأجل تُحمِّسنا، ومحتاجون للعقل والشرع حتى لا ننساق وراء العاطفة التي تؤدي إلى الهلاك ».

“Apabila pada diri kaum muslimin ada kemampuan untuk melengserkan pernguasa tersebut, maka adakalanya nyang seperti itu dianjurkan melakukan kudeta, dan jika pada diri kita kaum muslimin tidak memiliki kemampuan, maka tidaklah kita melakukan penentangan, dikarenakan seluruh kewajiban syariat pembebanannya sesuai batas kemampuan”. (Al Bab Al Maftuh 3/126, pertanyaan ke-1222)

أن تروا كفرًا بواحًا عندكم فيه من الله برهان هذه أربعة شروط وإذا رأينا هذا مثلا فلا تجوز
المنازعة حتى تكون لدينا قدرة على إزاحته فإن لم يكن لدينا قدرة فلا تجوز المنازعة لأنه ربما إذا
نازعنا وليس عندنا قدرة يقضى على البقية الصالحة وتتم سيطرته فهذه الشروط شروط للجواز أو
للوجوب وجوب الخروج على ولي الأمر لكن بشرط أن يكون لدينا قدرة فإن لم يكن لدينا قدرة

فلا يجوز الخروج لأن هذا من إلقاء النفس في التهلكة، أي فائدة إذا خرجنا على هذا الولي الذي
رأينا عنده كفرا بواحا عندنا فيه من الله برهان، ونحن لا نخرج إليه إلا بسكين المطبخ، وهو معه
الدبابات والرشاشات ؟ ! ! لا فائدة، ومعنى هذا أننا خرجنا لنقتل أنفسنا، نعم لابد أن نتحيل

بكل حيلة على القضاء عليه وعلى حكمه، لكن بالشروط الأربعة التي ذكرها النبي عليه الصلاة والسلام


“Jika kalian melihat pada para penguasa tersebut kekafiran yang jelas dan nyata, dan kita mempunyai burhan / bukti disisi Allah, maka wajib padanya terpenuhi empat persyaratan. Maka tidak boleh mencabut ketaatan sampai kita mempunyai kemampuan untuk melakukannya, maka apabila tidak terwujud adanya kemampuan untuk itu, maka tidak boleh bagi kita untuk mencabut ketaatan dari mereka, dikarenakan yang demikian itu sama dengan menjatuhkan diri kedalam kebinasaan, apakah faidahnya apabila kita melakukan pemberontakan kepada para penguasa tersebut sementara tidaklah kita melawan mereka kecuali dengan hanya sebilah pisau dapur sedangkan bersama mereka tank-tank dan persenjataan yang canggih? Maka tidak ada faidah sama sekali dalam hal ini ! sama saja maknanya kita membunuh diri kita sendiri.” (Syarah Riyadhus Shalihin 4/115)

apakah faidahnya apabila kita melakukan pemberontakan kepada para penguasa tersebut sementara tidaklah kita melawan mereka kecuali dengan hanya sebilah pisau dapur sedangkan bersama mereka tank-tank dan persenjataan yang canggih? Maka tidak ada faidah sama sekali dalam hal ini ! sama saja maknanya kita membunuh diri kita sendiri.

Faidah :

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :

ال ابن تيمية – رحمه الله – مُشيراً إلى شيءٍ من التلازم بين الخروج والمفسدة ( المنهاج 3/391 ): « ولعله لا يكاد يعرف طائفة خرجت على ذي سلطان إلا وكان في خروجها من الفساد ما هو أعظم من الفساد الذي أزالته » انتهى.

Dan hampir-hampir tidak diketahui satu kelompok pun yang melakukan pemberontakan kepada penguasa kecuali pada tindakan pemberontakan mereka tersebut terdapat kejelekan yang lebih besar daripada kejelekan yang hendak mereka hilangkan. (Minhajus Sunnah 3/391)

Categories: Anti Teroris | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Empat landasan pokok Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam bermua’malah bersama Pemerintah Muslim [disadur dari risalah `wa jaadilhum billati hiya ahsan`

  1. abu ibrahim

    Jazakumullahu khairan katsira, minta izin kopas artikelnya akhi

    Barakallahu fiik

  2. Subhanallaah, bagus sekali pembahasannya..

    Ana ijin meng-copy artikelnya di blog ana http://rizkytulus.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: